Dekso dan Sambiroto, Simpul Politik Perang Jawa di Lembah Menoreh


Perang Jawa menjadi perang terbesar sepanjang abad ke-19 di Tanah Jawa. Berlangsung sejak 1825 hingga 1830. Dipimpin oleh Bendoro Raden Mas Mustahar, yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Diponegoro.

Penulis:

Ahmad Athoillah

 

 

 

Pangeran Diponegoro adalah putra Sultan Hamengkubuwono III (1769-1814) dengan istri selir (garwa ampeyan) bernama Raden Ayu Mangkorowati (w.1852). Terlahir dengan nama Bendoro Raden Mas Mustahar pada 11 November 1785 di Keraton Yogyakarta (Carey, 2017:3).

Masa kecil Pangeran Diponegoro tinggal di Tegalrejo, kawasan yang berada di antara pegunungan Menoreh dan Sungai Progo, Yogyakarta. Karakter sosio-politis masyarakat lereng Menoreh pada awal abad ke-19, masih sangat kental dengan ideologi, tradisi dan politik Mataram Islam-Jawa yang dibangun oleh kekuasaan keraton Yogyakarta.

Pembentukan sosiologis-politik masyarakat pedesaan di wilayah antara pegunungan Menoreh dengan Sungai Progo, secara historis juga tidak terlepas dari warisan panjang peradaban Mataram Syiwa-Budha hingga periode Mataram Islam. Berbagai situs dan peninggalan Syiwa-Budha dan Mataram Islam banyak tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten Kulon Progo (Suratmin, 1997/98).  

Sejak abad ke-17, masyarakat di wilayah barat sungai Progo juga direkrut oleh Sultan Agung menjadi tenaga kerja (bahu suku) dan prajurit “Tumbak Anyar” untuk kekuatan serangan Mataram terhadap VOC di Jakarta (1628 dan 1629), yang pada masa itu disebut sebagai Batavia (Margana, 2004:1-2).

Perjalanan historis di atas,  secara tidak langsung telah membuat proses panjang internalisasi ideologi, tradisi dan politik pada sosial-psikologis masyarakat di lereng Menoreh.

***

Pangeran Diponegoro memulai perang melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda sejak tanggal 20 Juli 1825, dan berakhir ketika ditangkap di Magelang pada tanggal 28 Maret 1830.

Nama Pangeran Diponegoro sangat dikenal oleh masyarakat agraris pedesaan di lembah Menoreh dan Progo. Sosok Diponegoro hadir dan menyatu dengan kompleksitas ideologi, tradisi dan politik masyarakat pedesaan sejak akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.

    Bagikan

Komentar