Disrupsi Energi, Era Berakhirnya Zaman Fosil

ISTILAH INI DIMUNCULKAN PERTAMA KALI OLEH PARA PEMIKIR DI JERMAN. TAHUN 2013. PADA PAMERAN HANNOVER MESSE., TEMPAT DIMANA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DIPERKENALKAN.

Oleh:
Soni Fahruri
Pendiri Centre of Excellence for Energy Innovations and Technology Studies

 

Disrupsi, mulai populer di Indonesia saat industri transportasi online mulai marak. Saat Go-Jek, Grab, Uber dan lainnya mulai menjadi pilihan baru. Bukan saja sebagai industri transportasi. Tapi juga, sebagai modal baru dalam pengembangan bisnis.

Istilah disrupsi, kemudian muncul sebagai istilah berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi atau ICT. Disrupsi kemudian makin populer, dan dijadikan rumusan pengertian sebagai usaha, yang kepemilikannya tidak lagi didasarkan pada perorangan. Tapi, sebagai usaha yang memiliki banyak kesempatan nutuk berbagi peran atau kolektif-kolaboratif.

Disrupsi juga diartikan sebagai proses bisnis yang lebih hemat biaya dan lebih simpel; memiliki kualitas yang lebih baik; menciptakan pasar baru; produknya mudah diakses dan dijangkau oleh penggunanya; dan menjadikan sesuatu lebih smart, pintar, hemat waktu dan akurat.

Ketika transportasi online mulai menjadi tren, sempat mendapatkan pertentangan dari industri transportasi yang sudah eksisting. Namun, melihat manfaat yang diperoleh masyarakat, pengguna dan sopir transportasi online , pemerintah pun   segera merespon fenomena yang terjadi. Sehingga, akhirnya industri transportasi online ini dapat diterima oleh khalayak umum.

Hal yang menonjol terlihat pada saat itu, hingga sekarang adalah: belum siapnya payung hukum yang mengatur pengelolaan transportasi online. Seolah-olah, yang terjadi bahwa transportasi online bisa menjalankan  bisnisnya, bahkan menjadi bisnis yang besar, meskipun belum memiliki payung hukumnya tersedia.

Kemudian, banyak orang yang akhirnya menganggap bahwa istilah “disrupsi” hanya berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Selain transportasi online, juga e-Commerse, atau StartUp.

Memang, istilah disrupsi ini muncul bermasaan dengan munculnya era Revolusi Industri 4.0, yang mulai diperkenalkan oleh para pemikir di Jerman pada tahun 2013, pada agenda pameran tahunan Hannover Messe. Saat itu, sudah diprediksi bahwa Revolusi Industri 4.0 akan terus menggeliat dan mempengaruhi semua sektor.

Dalam perjalanannya, memang itulah kemudian yang terjadi. Kita sudah mengenal bagaimana dampak dampak dari disrupsi ini di sektor transportasi dan e-Commerce.

Namun, sesungguhnya yang juga perlu kita cermati adalah, sebenarnya potensi terhadap gelombang disrupsi ini juga terjadi di sektor energi terbarukan. Hal ini  sudah terlihat dengan ditandainya oleh  individu maupun kelompok, yang sudah dapat diperkenankan untuk memproduksi listrik yang bersumber dari energi matahari di atap rumah (solar photovoltaic roof top).

Ini adalah fenomena disrupsi di sektor energi terbarukan. Meskipun, hal itu masih terjadi di luar negeri.

Di Jerman, sudah sejak sepuluh tahun terakhir, atap-atap rumah dipasangi solar PV rooftop. Jadi, tiap rumah bisa menjadi produsen energi listrik berbasis energi matahari.

    Bagikan

Komentar