Kisi-kisi Visi Misi Zonder Apresiasi

KEDUA pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang bertarung di arena Pilpres 2019 telah memperlihatkan segala kemampuan yang mereka miliki di hadapan rakyat Indonesia pada debat perdana yang diselenggarakan Kamis malam, 17 Januari 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta.

Jutaan pasang mata yang memantek layar kaca televisi terrestrial maupun streaming berharap dapat menyaksikan secara langsung kehebatan visi dan misi pasangan 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan pasangan 02 Prabowo Subianto-Sandi Salahuddin Uno.

Usai debat pertama dari lima seri debat yang direncanakan, banyak yang mengatakan puas. Tetapi tidak sedikit juga yang mengatakan tidak puas dan kecewa.

Bagi yang kecewa, kekecewaan bahkan sudah mereka rasakan sebelum debat dimulai. Mereka yang masuk dalam kategori ini sejak awal meragukan kualitas perdebatan. Kekecewaan itu terutama karena “bocoran” atau kisi-kisi atas pertanyaan yang telah diberikan Komisi Pemilihan Umum (KPU) kepada kedua paslon.

Praktik pemberian kisi-kisi dikhawatirkan merusak permainan, membuat masyarakat tidak dapat melihat kualitas orisinal kandidat karena kandidat sudah mempersiapkan lebih dahulu jawaban yang akan mereka berikan atas paket pertanyaan yang disusun panelis.

Selain itu, praktik pembocoran kisi-kisi pertanyaan ini juga dianggap sebagai bentuk keragu-raguan dan bahkan ketidakpercayaan atas kemampuan kandidat merespon pertanyaan panelis.

Padahal, di sinilah esensi debat. Publik perlu menyaksikan respon, reaksi dan jawaban kandidat atas pertanyaan-pertanyaan yang bersifat mendadak. Karena itu semua adalah indikator atas kualitas kebijakan yang mereka ambil manakala memimpin negara besar ini.

“Banyak hal, baik atau buruk, terjadi tiba2. Tidak ada bocoran soal sebelumnya. Kita memang tidak mau menonton quiz. Kita mau lihat bagaimana respon calon2 pemimpin kita menghadapi beragam persoalan yg datang tiba2 itu, yg tanpa ketuk pintu,” tulis wartawan senior Teguh Santosa di akun Twitter miliknya, @teguhtimur.

Wakil Presiden Jusuf Kalla juga termasuk dalam kelompok yang mengkritik keputusan KPU memberikan kisi-kisi kepada pasangan capres dan cawapres sebelum debat perdana.

”Kalau itu dibuka duluan, berarti yang menjawab tim. Padahal, yang mau diuji adalah yang bersangkutan (capres dan atau cawapres). Jadi, saya sendiri kurang pas untuk melihat itu pertanyaan,” ujar Jusuf Kalla, Selasa, 8 Januari 2019.

Dan faktanya, ketika debat berlangsung, pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin terlihat terlalu sering terpaku pada tulisan di kertas yang sudah mereka siapkan sejak awal, baik ketika memberikan pernyataan pembuka maupun saat menjawab atau memberikan respon atas pertanyaan yang disampaikan lawan. Kalimat dari mulut Jokowi memang kerap terdengar utuh, namun intonasi yang keluar jadi terdengar seperti tanpa jiwa. Suara Jokowi juga terdengar lancar membaca “contekan” di kertas yang dipegangnya saat menyampaikan closing statement.

Di sisi lain, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno juga membawa kertas yang berisi catatan-catatan singkat, pesan kunci, yang hendak disampaikan. Prabowo berusaha sekuat mungkin keluar dari “jebakan” catatan pesan kunci itu. Tetapi ada kalanya intonasi kalimat yang keluar dari mulut Prabowo jadi terdengar lebih keras. Belum lagi, tangannya masih sering digerak-gerakan dengan tinju mengepal.

Di belakang kedua paslon adalah deretan kursi untuk pendukung kunci masing-masing paslon. Di belakang Jokowi dan Ma’ruf Amin terlihat antara lain Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hatarto, Yenny Wahid, Sekjen Partai Nasdem Johnny G. Plate, Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang, Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie, aktris senior Christine Hakim dan TGB Zainul Majdi.

Adapun Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan putrinya, Puan Maharani Kiemas, duduk di sebelah kanan, dan terbilang jarang masuk dalam frame kamera.

    Bagikan

Komentar