Merayap Sepi Di Kebun-kebun Tembakau Deli

KISAH heroik perang tembakau di Tanah Deli yang terlupakan. Perang selama 22 tahun itu begitu melegenda. Salah satu peristiwanya diabadikan sebagai hari jadi Kota Binjai.

Setelah penandatanganan perjanjian antara Sultan Siak Said Ismail dan Pemerintahan Hindia Belanda yang diwakili Residen Riau J.F.N. Nieuwenhuyzen pada 1 Februari 1858, Siak beserta daerah taklukannya menjadi bagian dari Hindia Belanda.

Dampak dari perjanjian tersebut, kekuasaan kerajaan Siakyang sedianya meliputi hingga ke Sumatera Timur menyusut drastis. Hindia Belanda yang menjadi kaki tangan Kerajaan Belanda berhasil menancapkan pengaruh dan menguasai pesisir pantai timur Sumatera.

Empat tahun setelahnya, kekuasaan Hindia Belanda semakin digjaya. Hal itu ditandai dengan penandatangan perjanjian Acte van Verband pada 22 Agustus 1862. Perjanjian tersebut ditandangani oleh Sultan Deli Mahmud Perkasa Alamsyah dan perwakilan pemerintah Hindia Belanda dari Residen Riau,Elisa Netsceher.

Cerita tentang kedatangan Netceher ke Deli semula bukanlah untuk perjanjian itu. Ia datang awalnya untuk mencari tahu tentang kabar yang diterimanya dari Raja Pagaruyung, Burhanuddintentang adanya sebuah kerajaan di Sumatera Timuryang tidak mau mengakui Kerajaan Siak.

Penasaran, Netscher mengunjungi Deli didampingi Asisten Residen Riau Arnold. Menumpang kapal Reiner Classen, ia sampai di perairan Deli pada 21 Agustus 1862. Kunjungannya disambut langsung Sultan Deli Mahmud Perkasa Alamsyah.

Keesokan harinya, Sultan Deli dipaksa untuk menandatangani pernyataan tunduk dan mengikuti aturan hukum Kerajaan Belanda. Pernyataan takluk itu juga dibarengi dengan pemberian konsesi lahan kepada seorang pengusaha tembakau Belanda, Jacobus Nienhuys.

Ini adalah konsesi lahan tembakau pertama yang diberikan kerajaan Deli. Wilayah konsesi itu membentang dari wilayah Mabar hingga Deli Tua. Wilayah tersebut sekarang dikenal sebagai Mabar Deli Tua Kontrak.

Konsesi inilah yang menjadi cikal meluasnya perkebunan tembakau di wilayah Deli, seiring dengan semakin mengakarnya cengkraman kerajaan Belanda. Memasuki tahun 1869, ekpansi perkebunan itu semakin sempurna dengan didirikannya sebuah pabrik tembakau milik perusahaan swasta Belanda.

Daun Emas Mengganas

Jacobus Nienhuysadalah tokoh kunci di balik berkembangnya perkebunan tembakau di Deli.  Sebelum menjadi seorang pengusaha tembakau sukses, ia adalah seorang pekerja pabrik tembakau di Surabaya. J.F. van Leeuwen and Co.nama perusahaannya.

Pada suatu ketika, tepatnya pada 6 Juli 1863, Nienhuysditugaskan perusahaannya ke Deli untuk kepentingan pengembangan produk tembakau.Jauh sebelum itu, Nienhuys memang sangat tertarik berkunjung ke Deli. Ia sudah mendapat informasi tentang daerahDeli dari seorang penulis buku bernama, Jhon Anderson.

Anderson dalam bukunya berjudul "Mission ToTheEast Coast of Sumatra"bercerita mengenai kondisi tanah dan cuaca di wilayah Deli yang dinilainya sangat cocok untuk pengembangan komoditas perkebunan seperti tembakau.

Anderson menyebut, warga tempatan pun telah menanam tembakau dengan cara sederhana. Daunnya dimanfaatkan untuk tanaman obat dan kebutuhan ritual.  Dalam buku itu Anderson mengatakan, amat sayang jika potensi besar pengembangan tembakau di wilayah tersia-sia. Tembakau hanya diproduksi dalam jumlah sedikit dan dengan cara yang sangat sederhana.

    Bagikan

Komentar