Kasus Yang Menimpa Siti Aisyah Sudah Aneh Sejak Awal

Ilustrasinya begini: warganegara Malaysia sebelum peristiwa itu tidak membutuhkan visa untuk berkunjung ke Korea Utara. Pesawat Air Koryo juga pernah terbang langsung dari Pyongyang ke Kuala Lumpur sebelum akhirnya tutup karena kekurangan penumpang.

Lalu, bila berkunjung ke Pyongyang, kita bisa dengan mudah menemukan produk-produk Malaysia di hotel kita. Baik sabun dan shampo maupun makanan kemasan dan minuman kaleng.

Sementara bagi Indonesia, hanya diplomat saja yang bisa bebas visa ke Korea Utara untuk beberapa waktu yang dibatasi. Demikian juga dengan diplomat Korea Utara yang berkunjung ke Indonesia. Sementara untuk warganegara biasa, sudah pasti memerlukan visa.

Hubungan Indonesia dan Korea Utara lebih didasarkan pada catatan sejarah bahwa pendiri Korea Utara pernah berkunjung ke Indonesia untuk menghadiri peringatan satu dasawarsa Konferensi Asia Afrika (KAA). Itu kunjunga yang istimewa, karena Kim Il Sung membawa putranya, Kim Jong Il.

Hanya dalam kesempatan itulah keduanya, Kim Il Sung dan Kim Jong Il, berpergiaan bersama ke luar negeri.

Juga dalam kunjungan itu Bung Karno menyerahkan bunga anggrek kepada Kim Il Sung. Kini setiap tanggal 15 April, hari kelahiran Kim Il Sung, pemerintah Korea Utara menggelar pameran Bunga Kim Il Sung secara besar-besaran di seluruh pelosok negeri.

Tiga Teori

Setelah peristiwa di KLIA itu, frame tunggal yang ditampilkan hampir semua media berpengaruh di dunia adalah: Kim Jong Un perintahkan pembunuhan saudara tirinya, Kim Jong Nam, yang sejak lama hidup dalam pembuangan.

Sejumlah media di tanah air pernah menghubungi saya untuk mendapatkan penjelasan mengenai apa yang terjadi sebenarnya.

Saya selalu memberikan disclaimer bahwa saya tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi di tempat kejadian perkara (TKP). Saya hanya bisa mendekati kasus itu dari pemahaman umum saya mengenai Korea Utara, karakter politik dan hubungan baiknya dengan sejumlah negara, termasuk Malaysia, Indonesia, dan Vietnam.

Saya juga menggunakan pemahaman saya atas ketegangan di Semenanjung Korea dan kawasan Asia Timur yang dua tahun lalu masih amat tegang. Beda dengan sekarang.   

Dengan semua perangkat analisa itulah saya berani mengatakan ada tiga teori yang bisa digunakan untuk menjelaskan kasus ini.

Pertama, teori pembunuhan biasa ala mafia. Teori ini didukung oleh karakter “Kim Jong Nam” yang digambarkan oleh media Barat sebagai sosok yang punya bisnis tidak jelas, gemar menggunakan dokumen palsu saat berkunjung ke negara lain, gemar main judi dan perempuan.

Teori kedua dan ketiga adalah teori pembunuhan politik, yang saya bagi menjadi varian A dan varian B.

Teori pembunuhan politik varian A mengikuti frame umum yang dikembangkan pihak-pihak berkepentingan saat itu bahwa mastermind pembunuh Kim Jong Nam adalah Korea Utara. Dalam teori ini, Kim Jong Nam dianggap berbahaya dan mengancam penguasa.

    Bagikan

Komentar