Kasus Yang Menimpa Siti Aisyah Sudah Aneh Sejak Awal

Tak lama setelah peristiwa itu, restoran Pyongyang tutup. Saya dengar, restoran ditutup karena pemilik gedung tidak memperpanjang kontrak. Mungkin khawatir terseret-seret juga dalam kasus ini. Ini dugaan saya.

Saya sempat mengajukan pertanyaan kepada seorang teman yang saya rasa tahu banyak hal mengenai Korea Utara. Terlepas dari kasus di KLIA, apakah memang ada sosok yang namanya Kim Jong Nam di Korea Utara.

Teman saya ini mengatakan, Kim Jong Nam memang ada. Dulu sekali namanya sering terdengar. Sempat diberi jabatan di semacam institusi kebudayaan. Sampai ia menikah dengan wanita yang tidak disukai sang ayah, Kim Jong Il. Lalu tersingkir.

Tetapi, teman saya ini tidak tahu apa yang terjadi kemudian. Dia juga tidak tahu apakah Kim Jong Nam memang terusir dan seterusnya.

Saya pernah tanyakan hal ini kepada Dubes An. Apakah ada sosok yang bernama Kim Jong Nam? Jawaban Dubes An tidak bisa saya ganggu gugat: kami tidak bisa membicarakan keluarga VIP.

Untuk menutup tulisan yang bisa panjang ini, saya ingin mengatakan satu hal. Peristiwa di KLIA terjadi dua tahun lalu. Warganegara Indonesia, Siti Aisah yang awalnya dituduh ikut dalam pembunuhan warganegara Korea Utara -- siapapun dia -- akhinya dibebaskan dari semua dakwaan. Ini bukan vonis tidak bersalah. Ini adalah pencabutan dakwaan. Berarti yang dituduhkan padanya tidak ada.  

Dua tahun setelah itu, banyak hal yang telah terjadi terkait Korea Utara dan ketegangan di Asia Timur.

Bulan April tahun lalu, untuk pertama kali Kim Jong Un bertemu dengan Presiden Korea Selatan Moon Jaein di Panmunjom. Lalu di bulan Juni 2018 Kim Jong Un bertemu dengan Presiden Donald Trump di Singapura. Ini dua terobosan penting di papan catur Asia Timur.

Moon Jaein telah pula berkunjung ke Pyongyang, Korea Utara. Di hari terakhir, mereka berkunjung ke puncak Gunung Paektu. Gunung sakral bagi bangsa Korea. Gunung yang melambangkan semangat nenek moyang mereka. Gunung Paektu dan Gunung Hala di Pulau Jeju, Korea Selatan, adalah dua penjuru persaudaraan Korea.

Dua minggu lalu, saya menghadiri KTT Korea Utara dan AS di Hanoi, Vietnam. Di akhir pertemuan, Kim Jong Un dan Donald Trump tidak menandatangani kesepakatan apapun. Padahal semua hal pada draft telah disepakati.

Banyak pihak yang mengatakan itu adalah kegagalan. Tetapi saya kira, itu adalah keberhasilan keduanya untuk saling mengenal. Ada tema yang tidak atau belum dibahas, mendadak diajukan di atas meja perundingan.

Hal itu tidak mengurangi semangat keduanya untuk tetap menjalin komunikasi demi perbaikan hubungan. Komentar pihak Korea Selatan pun positif. Juga memandang, pertemuan Hanoi menampilkan sisi lain sebuah keberhasilan diplomasi.

Saya berharap pencabutan atau pembatalan dakwaan untuk Siti Aisah ini juga bermakna positif dan konstruktif terhadap perdamaian di Semananjung Korea. [***]

Penulis adalah wartawan dan dosen politik Asia Timur

    Bagikan

Komentar