17 April, Ketika Infrastruktur Dibalas Kemandirian Tanpa Batas

Alasan pemilihan tanggal 17 April menurut panitia penyelenggara didasarkan kepada efisiensi hari. 17 April itu jatuh pada hari Rabu, hari yang dianggap sebagai waktu yang paling rasional untuk menghindari kecilnya partisipasi pemilih. Alasan lain menurut KPU, dipilihnya tanggal 17 adalah karena tidak ada pasangan calon presiden maupun partai yang mendapat nomor urut 17.

 

Apapun yang menjadi pertimba–ngan KPU berkaitan tanggal pemilihan serentak rakyat Indonesia ini, yang jelas pada tanggal itu, sebuah peristiwa besar pernah terjadi dan tercatat dalam sejarah dunia.
Peristiwa Invasi Teluk Babi, namanya. Terjadi  di Kuba  pada 17 April 1961. Peristiwa sejarah ini  menjadi catatan menarik yang mungkin bisa menjelaskan bahwa, bagai­manapun, kekuasaan yang dipaksakan akan menjadi sia-sia karena akan mendapat perlawanan dari keyakinan yang dimiliki rakyat. Kekuasaan yang dipaksakan akan menghadapi kekalahan yang menyedihkan. Memilukan sekaligus memalukan.
Presiden Amerika Serikat Jhon F Kennedy hingga pada akhir hayat­nya menanggung itu semua. Menanggung rasa malu atas upayanya memaksakan kehendak kepada rakyat Kuba di Teluk Babi.

 

Kuba MenjemputDemokrasinya Sendiri
Pertempuran Santa Clara yang dipimpin seorang imigran dari Argentina menjadi puncak dari letupan kemarahan warga Kuba kepada rezim diktator militer sayap kanan Jenderal Fulgencio Batista.
Pada 28 Desember 1958, Ernesto Che Guevara memimpin 350 orang keluar dari rerimbunan hutan lebat dan menyerbu ibukota Villa Clara, Santa Clara.
Target penyerangan adalah stasiun kereta api yang membawa logistik militer dan bantuan tentara. Che dan pasukannya menghempang laju kekuatan Batista di tempat itu dan berhasil dengan gilang gemilang.
Sebanyak 4.000 tentara dan polisi Kuba menjadi lawan Che cum suis kala itu. Tentara organik terlatih yang dimiliki rezim Batista itu hancur lebur dalam sekali serangan mematikan.
Kemenangan itu tentu saja membuat ciut Batista dan kekuatan adidaya yang ada di belakangnya.
Batista seorang diktator yang berkuasa karena restu dan dukungan dari tetangganya di selatan, Amerika Serikat terpaksa meninggalkan kampung dan kemewahannya. Pada 1 Januari 1959, tokoh militer Kuba yang pada 1933 menjadi aktor utama kudeta Gerardo Machado itu akhir–nya mengumumkan kebangkrutan kekuasaannya. Ia melarikan diri ke Republik Dominika sebelum akhirnya meminta suaka ke Portugal dan Spanyol. Batista mengakhiri petualangannya di Negeri Matador pada 6 Agustus 1973.
Pertempuran Santa Clara yang merupakan buah rancangan Fidel Castro dan sahabat-sahabat revolu–sinya itu, kemudian  mengantarkan Kuba memasuki medan pertarungan baru, hingga hari ini.
Revolusi Kuba 26 Juli diawali dengan pertemuan semangat dan pandangan yang sama yakni anti imperialisme dan menentang intervensi Amerika Serikat yang telah menyebabkan penumpukan kapitalis di Havana.
Gerakan MR-26-7 adalah reinkarnasi sel gerakan yang sebelumnya dipakai Castro  saat memulai serangan ke Barak Moncada yang terletak di luar kota Santiago de Cuba, Oriente.
Pada 26 Juli 1953, milisi binaan Castro yang dibakar semangat pejuang kemerdekaan Kuba, José Martí, menyerang barak Moncada. Barak militer yang mengabadikan nama seorang pahlawan perang Kemer­dekaan Ku­ba Jenderal Guillermón Moncada itu berada di Santiago de Cuba itu di–serang pada pagi buta.
Serangan itu memang gagal. Sebanyak enam orang dari pihak Castro tewas dan 15 lainnya terluka. Sementara di pihak angkatan darat ada 19 yang tewas dan 27 tentara yang terluka. Tetapi meski gagal di langkah pertama, Castro dan revolusioner Kuba lainnya menjadikan momen itu sebagai monumen kebangkitan.
Kemenangan Castro dan Gerakan 26 Juli adalah kemenangan rakyat Kuba. Kemenangan itu tak hanya membuat Batista lintang-pukang lari dari kandang mencari keselamatan di kampung orang. Tetapi juga menjadi ancaman bagi hegemoni negara adidaya dan adikuasa Amerika Serikat yang ketika itu tengah menghadapi perang dingin dengan mantan sekutunya, Uni Soviet saat menghancurkan Hitler-Nazi pada 1945.
AS yang tidak hanya kehilangan anak emasnya di Kuba setelah 1 Ja–nuari 1959, tetapi sekaligus mendapat gangguan serius dari Castro dan para revolusioner yang merupakan pejuang-pejuang sosialis.
Maka, untuk mendesak dan meminimalisir kerugian akibat gangguan Castro di kawasan Amerika Latin, AS melancarkan blokade-blokade politik serta embargo ekonomi.
Dengan kekuatan dan pengaruh–nya, AS menutup Kuba dari tetang–ganya dan memotong hubungan Kuba dengan dunia internasional.
Jadilah Kuba si anak hilang di kawasan Karibia. Sendiriaan melawan dan menghadang bombardir hegemoni dan intervensi AS sejak Castro memimpin negeri itu.

Demokrasi Itu Mahal
Mimpi buruk AS di Amerika Latin menjadi kenyataan tatkala pada 16 Februari 1959 Castro akhirnya disumpah menjadi Perdana Menteri Kuba.
Sebelum itu, situasi di Amerika Latin pasca Perang Dunia II telah mendorong negeri Paman Sam untuk memperluas isu keamanan menjadi persoalan ekonomi dan sosial. Sejak Maret 1961, AS merintis program bantuan untuk pemulihan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan sosial di kawasan Amerika Latin. Program yang mirip dengan “Marshall Plan” itu dirancang untuk membendung revolusi yang dipicu oleh paham sosialisme dan komunisme. Ya tentu saja di balik itu semua, AS sedang terlibat dalam kompetisi pengaruh dunia saat perang dingin melawan blok timur sedang berkecamuk.
Paman Sam dalam periode itu ba–nyak mendorong terjadinya investasi swasta dan perdagangan bebas sebagai kunci pengembangan sosial ekonomi di kawasan Amerika Latin.
Sementara di sisi lain, negara-negara Amerika Latin tengah bersemangat membentuk sebuah bank pembangunan regional. Tetapi, pada Agustus 1958, AS menolak gagasan itu dan pada 1960 merintis pembentukan Inter-American Deve­lopment Bank.
Perubahan kebijakan AS itu diresmikan dalam konferensi di Bogota, Kolombia, pada September 1960 untuk mengembangkan gagasan ke–satuan kerjasama ekonomi Amerika. Menyusul kebijakan ini, Presiden Eisenhower mengguyur utang sebesar 500 juta dolar AS untuk infrastruktur dan pembangunan sosial ekonomi.
Namun seluruh pendekatan yang terus diujicoba AS untuk bisa meng­uasai Amerika Latin sepenuhnya dari kompetisi hegemoni dengan Blok Timur tetap terasa sulit, mana­kala penetrasi ke Kuba selalu mendapat resisten.
Kemarahan AS menjadi-jadi setelah pada Januari 1961, Castro memerintahkan Kedutaan Besar AS di Havana untuk mengurangi jumlah anggota stafnya yang mencapai 300 orang. Pengurangan jumlah staf itu didasari oleh dugaan banyak dari antara mereka yang menjadi mata-mata.
Tindakan Castro pun langsung disambut AS dengan mengakhiri hubungan diplomatiknya terhadap Kuba. Selain itu, tentu saja AS sema–kin gencar mendanai gerakan-gerakan para pembangkang Castro yang tengah mencari suaka dan perlindungan di pengasingan.

Pendaratan dan Kebohongan Di Teluk Babi
Penerus Eisenhower, John F Kennedy mendukung rencana CIA untuk membantu milisi pembangkang Castro lewat “Barisan Revolusioner Demokratik”.
Trinidad dipilih sebagai lokasi persiapan relawan yang akan melawan Castro. Pemilihan tempat itu didasari dengan ketidaksukaan penduduk Trinidad terhadap Castro. Selain itu, letak geografis pegunungan yang terjal bisa membantu pasukan penyerbu saat mengundurkan diri dan melakukan perang gerilya apabila serangan itu gagal.
Sepanjang tahun 1960, pasukan Brigada 2506 yang terus bertambah itu berlatih di lokasi-lokasi di seluruh Florida selatan dan di Guatemala untuk melakukan pendaratan pantai dan kemungkinan pengunduran diri ke gunung.
Namun, atas perintah Kennedy, misi itu diubah sehingga pendaratan Brigada 2506 dilakukan di dua titik di Provinsi Matanzas, 202 km tenggara Havana di ujung timur jazirah Zapata di Bahia de Cochinos (Teluk Babi).
Menurut rencana, pendaratan itu akan dilakukan di pantai Girón dan Larga.
Pemerintah Castro telah diperingatkan oleh agen-agen senior KGB Osvaldo Sánchez Cabrera dan “Aragon,” yang masing-masing me–ninggal dengan menyedihkan sebelum dan sesudah penyerbuan itu (Welch dan Blight, hlm. 113).
Pada pagi hari 15 April 1961, tiga penerbangan pesawat pengebom

ringan Douglas B-26B Invader dengan tanda Fuerza Aerea Revolucionaria (FAR - Angkatan Udara Revolusioner) pada pesawatnya, mengebom dan menembaki landasan-landasan udara Kuba di San Antonio de Los Baños, Bandara Internasional Antonio Maceo, dan landasan udara di Ciudad Libertad.
Serangan mendadak yang memiliki sandi “Operasi Puma” itu diberikan untuk menghancurkan secara efektif kekuatan udara Kuba, sehingga pasukan infantri dari Brigada 2506 bisa masuk dengan mulus ke Teluk Babi.
Namun hal ini gagal, karena serangan udara itu tidak berlangsung terus-menerus seperti yang direncanakan awal yakni selama 48 jam.
Untuk menutupi kegagalan ini, AS membuat cerita palsu yang seru kepada dunia. Satu dari pesawat yang dikirim untuk ke pantai Teluk Babi mengemban tugas spesial. Pesawat yang dikemudikan Captain Mario Zuniga ini diterbangkan untuk membuat cerita heroik pada peristiwa Invasi Teluk Babi.
Pesawat B-26B dengan dua penumpang yang dimodifikasi itu di­hiasi agar tampak benar-benar terbang di atas udara yang tengah mem­bara oleh perang. Penutup mesin dari salah satu mesinnya diangkat oleh petugas pemeliharaan, ditembak, lalu dipasang kembali untuk memberi­kan kesan bahwa pesawat itu telah ditembaki dari darat pada saat penerbangannya.
Captain Zuniga berangkat dari sebuah pangkalan pembuangan di Nikaragua dalam sebuah misi pe–nerbangan rendah solo yang akan membawanya ke atas provinsi paling barat, Pinar del Rio, Kuba, and kemudian ke timur laut menuju Key West, Florida. Begitu berada di atas pulau Kuba, Captain Zuniga terbang curam meninggi menjauhi gelombang Selat Florida ke suatu ketinggian di mana ia akan terdeteksi oleh instalasi radar AS berada di utara Kuba.
Pada ketinggian dan jarak yang aman di sebelah utara pulau itu, Captain Zuniga menghiasi mesin dengan lubang-lubang peluru hasil penembakan terlebih dulu pada penutup mesinnya, lalu mengirimkan pesan SOS dan meminta izin untuk segera mendarat di Stasiun Udara Angkatan Laut Boca Chica beberapa kilometer di sebelah timur laut dari Key West, Florida.
Pada saat pesan Captain Zuniga disampaikan kepada dunia pada dini hari tanggal 15 itu, tinggal satu pesawat pengebom Douglas dari Brigada yang menyerang, yang belum kembali ke atas laut Karibia
Bersamaan dengan kebohongan Zuniga itu, AS kemudian mengumumkan kepada dunia bahwa para penyerang pangkalan militer di Teluk Babi dilakukan oleh pilot angkatan udara Kuba yang membelot dari rezim Castro.
Pengumuman itu dibantah Castro dengan cara membongkar kebohongan klaim AS tersebut. Castro mengumumkan hal sebaliknya, bahwa peristiwa itu murni ditunggangi AS yang tak ingin Castro dan Kuba-Sosialis menjadi duri dalam daging di tengah gemerlapnya proyek infrastruktur demokrasi di Amerika Latin. (Bourne, Peter G, 1986. Fidel: A Biography of Fidel Castro. New York City: Dodd, Mead & Company. halaman 217-220).
Pada 17 April, sekitar 1.500 orang pemberontak Revolusi Kuba yang dilengkapi dengan persenjataan AS mendarat di pantai selatan Kuba di Teluk Babi. Mereka berharap akan mendapatkan dukungan dari penduduk setempat, dan bermaksud melintasi pulau itu ke Havana. CIA mengasumsikan bahwa invasi itu akan menimbulkan pemberontakan rakyat melawan Castro. Namun, CIA keliru. Pasalnya operasi itu telah dinantikan oleh Castro. Pemimpin Kuba itu sudah lebih dulu mengantisipasi pemberontakan kepada rezimnya meluas. Dengan informasi yang dimilikinya, Castro segera menyapu bersih kelompok-kelompok pembangkang sebelum bayangan CIA menjadi kenyataan.
“Yang tidak dapat diampuni oleh kaum imperialis adalah bagaimana kita telah mengobarkan revolusi Sosialis di pelupuk mata mereka sendiri,” kata Castro lewat pidatonya usai operasi pembersihan penyerangan 15 April 1959. Pidato Castro itu menjadi deklarasi bahwa Kuba adalah pemerintahan sosialis. (Quirk, Robert E, 1993. Fidel Castro. New York and London: W.W. Norton & Company. Halaman 369).

Infrastruktur vs Keyakinan
Mengetahui kegagalan yang dideritanya di lapangan, Kennedy memutuskan untuk tidak memberikan dukungan udara AS.
Kennedy pun membatalkan sejumlah sortie pengeboman (hanya dua yang terjadi) pada Angkatan Udara Kuba yang diberikan perintah untuk tidak terbang.
Selain itu, Marinir AS pun tak jadi dikirim, meskipun ada kapal-kapal pendukung di lepas pantai yang siap untuk mendarat begitu mendapat perintah.
Invasi Teluk Babi yang gagal ini sangat memalukan pemerintahan Kennedy. Sejumlah korban pun di–tumbalkan.
Akibat kegagalan ini, Direktur CIA Allen Dulles, Wakil Direktur CIA Charles Cabell, dan Wakil Direktur Operasi Richard Bissell dipaksa me–ngundurkan diri. Ketiga orang ini bertanggung jawab atas perencanaan operasi di CIA.
CIA kemudian membuat laporan atas kegagalan yang dialami AS di Te–luk Babi. Selain itu banyak pemimpin militer cukup yakin bahwa invasi itu akan gagal namun mereka mengira bahwa Kennedy akan mengirimkan Marinir untuk me­nyelamatkan para pelarian itu. Namun, Kennedy tidak mengingin­kan perang besar-besaran dan me­ning­galkan para milisi pemberontak Kuba, Barisan Revolusioner Demokratik.
Invasi Teluk Babi sampai kini menjadi cibiran dan sasaran kritikan di AS sendiri. Pasalnya, karena peristiwa ini, Castro menjadi lebih populer dan membawa efek baik bagi sentimen-sentimen nasionalistik terhadap dukungan kebijakan-kebijakan ekonominya di Kuba. Dan itu berarti AS tidak punya peluang menancapkan kepentingan politik ekonominya di negara itu.
Kegagalan negara Adikuasa se–perti AS di Teluk Babi pada 17 April 1961 ini membawa petaka. Bak Goliat tumbang di tangan David, kekuatan infrastruktur tak bisa menaklukkan keyakinan.
Mengenang peristiwa kemandirian rakyat Kuba dalam menjemput demokrasinya sendiri yang terbebas dari pengaruh dan dikte, AS hingga kini masih terpukul malu.
Bahkan istilah “Teluk Babi” juga muncul tatkala sejumlah rekaman percakapan dalam kisah “watergate” diputar. Presiden Richar Nixon di Gedung Putih menyebut monumen kekalahan AS di Teluk Babi itu sebagai acuan rahasia terhadap pembunuhan Kennedy.  Robedo Gusti

    Bagikan

Komentar