Anomali Debat Sedekah Putih

Baru kali ini, tampak bahwa ego dan hasrat memenangkan kekuasaan bisa menjadi penghalang komunikasi, saling menghargai dan menambah kemajuan.
Ironi, seorang ulama apalagi pe­mimpin para ulama yang semesti­nya mengajak dan mengapresiasi masyarakat setidaknya umatnya bersedekah, di arena atau demi kepentingan debat malah mengkritisi orang bahkan komunitas yang bersedekah.

“Pak Sandi, di dalam visi misi Bapak untuk mengatasi stunting, anda menyebut, mengggunakan atau melakukan ‘Sedekah Putih’. Apa yang dimaksud dengan Sedekah Putih? Juga tadi juga anda menyebutkan, ketika menyampaikan penjelasan tentang kesehatan,” kata Maruf Amin membuka sesi perdebatan.

Menjawab pertanyaan itu, Ca­wapres 02 menjabarkan bahwa Prabowo-Sandi, meluncurkan program “Indonesia Emas” dan salah satu aspek Indonesia Emas itu ada yang berupa gerakan masyarakat,  yang diberi nama “Sedekah Putih”. Sebuah gerakan untuk memastikan ibu-ibu, emak-emak, mendapatkan protein yang cukup, susu maupun asupan protein yang lain, ikan dan lain sebagainya, juga anak-anaknya.

“Terima kasih. Pak Kyai, masalah stunting sangat-sangat ada dalam tahap yang gawat darurat. Dimana sepertiga dari anak-anak kita kekurangan asupan gizi,” ucap Sandiaga Uno mengawali jawabannya.

Dengan program tersebut, sambung Sandi, diharapkan stunting bisa dikurangi secara signifikan lima tahun ke depan, sesuai dengan target yang sudah dicanangkan. Pasangan Calon Presiden nomor urut 02 ini meyakini, jika pemerintah fokus pada pengurangan masalah prevalensi stunting, Indonesia akan memiliki generasi muda adalah generasi emas bangsanya.

“Saya yakin juga, Sedekah Putih yang dimaksud oleh Kyai Maruf Amin tadi, memberikan satu dorongan kepada teman-teman yang ingin berkontribusi putih itu adalah susu dan kita menjadikan bagian dari pada Indonesia Emas,” ujarnya.

Hal ini merupakan bagian dari pada program partisipatif kolaboratif yang ingin dihadirkan untuk Indonesia, karena persoalan stunting ini tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Sehingga harus melibatkan juga pihak-pihak lain, termasuk pihak-pihak dunia usaha. “Siapa yang ingin menyumbangkan susu, tablet, kacang ijo, silahkan,” tegasnya.

Lalu apa masalah dan dimana kesalahan program atau gerakan “Sedekah Putih” itu? Karena sebenarnya, NU melalui sayap organisasi perempuannya, Fatayat bersama organisasi keagamaan dan ormas lainnya pun bersinergi dengan berbagai program dan langkah pelibatan masyarakat yang berbeda-beda.

“Karena itu, menurut saya, istilah Sedekah Putih itu menimbulkan pemahaman yang mengacaukan masyarakat,” ucap Maruf Amin.

Ketua Majelis Ulama Indonesia  (MUI) ini menjelaskan, isu “Sedekah Putih” itu ditangkap oleh banyak pihak, memberikan sedekah susu setelah anak itu selesai disusukan oleh ibunya.

Padahal, stunting itu adalah 1000 hari pertama sejak dia mulai hamil,  sampai disusui anaknya. Yaitu melalui pemberian asupan yang cukup dan juga melalui sanitasi dan air bersih, serta susu ibu selama dua tahun dan setelahnya, terutama sekali ketika susu ibu itu keluar pada saat melahirkan yang oleh dunia kedokteran disebut sebagai kolostrum, di dalam fiqih disebut sebagai alluba, alluba wallabanul kharij awwalal wiladah. Lubba adalah air susu ibu, yang keluar ketika waktu melahirkan dan hukumnya itu wajib untuk diberikan, menurut pendapat ahli fiqih.

“Nah, apabila diberikan itu setelah dua tahun yaitu habbulaini kamilaini (dua tahun sempurna), maka tidak lagi berpengaruh untuk mencegah stunting, maka stunting sudah tidak bisa diatasi setelah dua tahun disusukan anaknya,” ujar Maruf Amin.

Menanggapi penjabaran tersebut, Sandi merespon dengan penjelasan yang lebih detil dan konkrit lagi. “Ini ada Mpok Nur Asiyah, istri saya tercinta. Beliau melahirkan di usia 42 tahun. Anak terakhir kami, si bungsu Sulaiman. Kami, seperti ajaran guru-guru maupun orang tua memberikan air susu ibu. Tapi mendadak di bulan ke enam berhenti, tidak keluar lagi. Mungkin karena faktor usia, mungkin karena faktor yang lain,” tuturnya menjelaskan mengapa perlu ada sedekah susu kepada anak bayi dan balita untuk mencegah stunting.

Nah, sambungnya, banyak sekali anak-anak seperti Sulaiman dan ibu-ibu yang lain juga, mengalami kasus serupa. Di situlah kubu Prabowo-Sandi ingin mengajak para kontributor, para yang bisa menyediakan susu, para donatur mengumpulkan uang untuk membantu agar gizi ibu dan gizi anak, bisa diperhatikan dan masalah stunting itu bisa selesai.

    Bagikan

Komentar