Ma’ruf Amin: Perlu Diwaspadai Propaganda Menciptakan Konflik Global

Kamis, 20 September 2012, 08:18 WIB

Ma’ruf Amin

Ketua  Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin mengutuk keras beredarnya film Innocence of Muslims. Sebab, telah menodai ajaran agama Islam dan menghina Nabi Muhammad SAW.

Film tersebut dapat menim­bul­kan konflik tingkat inter­nasional. Tidak seharusnya film semacam itu dibuat karena menimbulkan kerusuhan di mana-mana.

“Kami menyesalkan keluarnya film tersebut karena bisa me­nim­bul­kan konflik. Bukan hanya kon­flik di satu negara, melainkan kon­flik global,” kata Ma’ruf Amin kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Seperti diketahui, film Inno­cen­ce of Muslims dibuat di Cali­fornia, Amerika Serikat. Film ini yang berdurasi selama dua jam beredar di internet itu dikecam.

Beberapa negara langsung be­reak­si dengan melakukan de­mons­trasi di Kedutaan Besar Ame­rika Serikat. Begitu juga de­ngan Indonesia, ribuan orang me­lakukan demonstrasi di depan ke­dubes Amerika Serikat, Senin (17/9). Keributan pun tak tere­lak­kan dalam aksi demonstrasi ter­sebut.

Ma’ruf Amin selanjutnya me­nga­takan, umat Muslim di se­lu­ruh dunia wajar bereaksi atas film tersebut. Pembuat film ini se­harusnya dihukum berat sa­ja, se­hingga ke depan, orang ti­dak la­gi memproduksi hal-hal sen­sitif.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa yang sudah dilakukan MUI?

Kami meminta agar pemerin­tah Amerika Serikat menindak te­gas dan menghukum berat pi­hak yang membuat film itu. Jangan anggap sepele masalah ini. Umat Islam seluruh dunia merasa ter­singgung.

    

Sebagai negara mayoritas be­ragama Muslim, apa yang ha­rus dilakukan pemerintah Indonesia?

Kami juga meminta agar pe­me­­rintah Indonesia segera me­nutup akses film tersebut agar be­­nar-benar tidak bisa dibuka la­gi di in­ternet. Kalau tidak se­gera di­tutup, bisa lebih mem­ba­­­ha­yakan lagi.


Hanya itu saja?

Tidak dong. Pemerintah juga ha­­­­rus menyampaikan statement atau pidato resmi sikap peme­rin­tah yang dilakukan Presi­den SBY.


Bukankah SBY sudah me­la­kukan itu?

Pak SBY memang sudah me­nyampaikan hal itu, tapi harus ada sikap resmi yang harus di­la­kukan pemerintah. Sebab, ma­salah ini bisa menimbulkan kon­flik global.

   

Pemerintah perlu menyam­paikan protes ke Amerika Serikat?

Saya kira perlu, supaya peme­rin­tah Ame­rika Serikat tidak mem­biar­kan hal-hal seperti ini. Wa­jar saja kita sebagai umat Mus­lim marah dengan adanya film itu.

   

Apa MUI sudah menyampai­kan ke SBY?

Secara resmi belum. Tapi sece­patnya akan disampaikan ke Pak SBY, sehingga pemerintah me­nge­­luarkan sikap resmi kepa­da pemerintah Amerika Serikat.


Anda sudah melihat film itu?

Saya pribadi belum melihat film itu.  Mungkin teman-teman di MUI sudah melihatnya. Tapi saya sudah tahu beritanya. Saya juga menilai wajar-wajar imbas dari film itu terjadi demonstrasi di beberapa negara, termasuk di Indonesia.

Film ini sangat disayangkan.  Se­bab, menghina Nabi Muham­mad ini jelas bukan film yang ber­sifat mendidik. Makanya peme­rin­tah harus cepat memblokir film itu dari internet.


Bagaimana harapan Anda terhadap demo atas film ter­sebut?

 Demo itu wajar-wajar saja. Silakan melakukan demonstrasi untuk memprotes film tersebut. Sebab, film itu telah menyakiti perasaan umat Islam. Tapi demo itu seharusnya jangan anarkis.

Memang demo tidak dilarang, namun tetap tidak boleh anarkis. Saat demo Senin (17/9) memang ada satu atau dua orang tinda­kan­nya sangat sayangkan. Sebab, mem­bawa ketapel dan batu untuk melempar petugas.

Saya kira, hal semacam itulah yang harus dicegah. Demonstrasi itu boleh asalkan jangan mem­buat kerusakan, dan jangan emo­si. Demo itu wajar, tetapi harus tetap pada jalur-jalur yang benar dan jangan mudah terprovokasi.


Artinya demo tidak boleh brutal?

Ya. Film itu jelas membuat marah seluruh umat Islam. Tapi jangan sampai terprovokasi untuk melakukan tindakan-tindakan yang brutal dan tidak terdidik.

Dalam menyampaikan kema­ra­han itu harus bisa terkendali. Umat Muslim itu kan tidak boleh melakukan anarkis. Sebab, itu jelas dilarang agama.

Kami mengimbau masyarakat agar cerdas menyikapi apa yang ter­jadi saat ini. Sebab perlu di­was­padai adanya propaganda da­lam bere­darnya film tersebut un­tuk menciptakan konflik global. [Harian Rakyat Merdeka]

Kolom Komentar


loading