WAWANCARA

Jenderal Polisi Drs. H. Sutarman: ISIS Belum Berbahaya, Tetapi Kami Tetap Lakukan Antisipasi

Selasa, 06 Januari 2015, 08:36 WIB

Jenderal Polisi Drs. H. Sutarman

Kelompok yang mengatasnamakan Islamic State For Irak and Syria (ISIS) terus berupaya memperbesar pengaruhnya di Indonesia. Polri berjanji terus berupaya melakukan antisipasi.

ISIS menantang TNI dan Polri untuk terjun ke medan pertempuran, berperang melawan mereka. Tantangan disampaikan Abu Jandal al Indonesi, anggota ISIS asal Indonesia, lewat jejaring sosialYoutube. Lelaki berjanggut ini mengatakan, tantangan dilontarkannya  sebagai respon terhadap rencana pemerintah Indonesia ingin bergabung dengan tentara koalisi internasional meleyapkan daulah khilafah. Abu Jandal mengancam menyerbu Indonesia bila tantangannya tidak direspon.  Video berdurasi empat menitan tersebut diunggah pada 25 Desember 2014 dan telah menjadi perhatian masyarakat Indonesia.

Kapolri Sutarman mengungkapkan, saat ini sudah ada ratusan warga Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut. Namun, mereka sejauh ini belum berbahaya. Berikut ini penjelasan Sutarman selengkapnya  Kepada Rakyat Merdeka, baru-baru ini.

Gerakan ISIS telah menimbulkan keresahan. Bagaimana Polri melihat perkembangan gerakan ISIS?

ISIS itu semula hanya berkembang di Irak dan Syria saja. Tapi, setelah mereka memproklamirkan diri, banyak orang dari sejumlah  negara ikut bergabung, termasuk dari Indonesia. Dari data kepolisian, orang Indonesia yang  jadi anggota, pergi ke sana 110 orang. 26 orang di antaranya  sudah meninggal di sana. ISIS mulai berkembang di Indonesia setelah 10 orang Indonesia yang bergabung itu kembali ke Tanah Air dan mereka mempengaruhi dan mengajak orang-orang untuk bergabung.

Maksudnya gerakan ISIS sudah berkembang di Indonesia?
Iya, mereka sudah masuk, tapi perkembangannya belum signifikan. Namun demikian, kita harus tetap waspada. Tapi perlu diketahui, banyak warga negara Indonesia pergi ke sana bukan untuk perang dan menjadi anggota ISIS, tapi memang hijrah, mereka membawa keluarga dan anak-anaknya.

Apa langkah  Polri mengantisipasi gerakan ISIS?
Kami bekerjasama dengan negara-negara ASEAN. Termasuk negara tetangga lainnya seperti Australia, dan China. Kami meminta kepada mereka kalau ada warga negara Indonesia yang ingin pergi ke Irak dan Syria melalui negara mereka agar diberitahukan ke kami. Kerjasama ini sudah ada hasilnya, Malaysia belum lama ini  menangkap 12 orang warga negara Indonesia yang akan pergi ke Irak dan Syria. Mereka ditangkap dan di deportasi ke Indonesia, kemudian mereka kami periksa. Kami terus melakukan langkah-langkah preventif. Kami juga melakukan langkah penindakan terhadap mereka yang melanggar hukum seperti ingin keluar negeri dengan parpor palsu.

Anggota ISIS mengaku bernama Abu Jandal menantang Polri. Apa benar dia orang Indonesia?
Kami sudah identifikasi. Dia memang warga negara Indonesia. Dia kelahiran Pasuruan dan sempat tinggal di Malang. Abu Jandal adalah orang Indonesia yang masuk ISIS pada gelombang pertama. Sekarang dia masih ada di sana. Kami melihat sesuatu masalah dari sisi aspek penegakan hukum. Kalau memang ada orang melakukan pelanggaran hukum yang dilakukan di wilayah Indonesia, Polisi tentu akan bertindak. Tapi, ini kan orangnya ada di sana.

Dia mengancam akan datang ke Indonesia….
Sejauh ini masih belum membahayakan, tetapi memang sudah ada potensi, dan kami melakukan antisipasi-antisipasi. Kepolisian selama ini konsisten menegakkan hukum terhadap gerakan teroris. Kalau dulu teroris menyerang target dulu, seperti kejadian bom di hotel JB Marriot dan bom Bali, kepolisian baru bergerak melakukan penangkapan. Tapi sekarang, pada 2013 hingga 2014, kami melakukan penangkapan ketika mereka baru merencanakan pengeboman. Kami berupaya maksimal dalam melakukan antisipasi untuk mencegah korban jiwa.

Oh ya, bagaimana evaluasi kinerja Polri selama tahun 2014?
Tahun 2014, Polri fokus melakukan pengamanan politik. Karena, tahun 2014 ada pemilu legislatif dan Pilpres. Saya melihat kinerja personil kepolisian optimal dari pusat hingga daerah sehingga perhelatan politik bisa berjalan dengan aman, nyaman dan kondusif.

Bagaimana dari sisi penegakan hukum?
Cukup baik. Polri berhasil menyelesaikan 182.009 kasus atau mencapai 56,5 persen dari keseluruhan kasus yang kami tangani. Penangganan kasus korupsi, Polri  berhasil menyelamatkan Rp 914 miliar uang negara dari penanganan kasus-kasus korupsi. Jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. ***

Kolom Komentar


loading