Kabut Misteri Hipotesis Riemann

Kamis, 10 Januari 2019, 07:29 WIB | Oleh: Jaya Suprana

Bernhard Reimann/Net

URUTAN bilangan prima terdiri dari angka-angka yang tidak dapat dibagi dengan angka lain, kecuali dengan angka itu sendiri atau angka 1.

Sebuah pertanyaan menghantui selama 3.000 tahun: 2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19, 23, 29 dan selanjutnya = p. Apa itu p? 31. Apa p selanjutnya? 37. Setelah itu? 41. Lalu? 43. Namun bagaimana dengan bilangan prima selanjutnya?

Hadirkan suatu rumus yang terjamin mampu secara pasti memprediksi berapa bilangan prima berikutnya dalam urutan bilangan prima maka nama Anda akan selamanya dikenang sebagai satu di antara semua pencapaian terbesar pikiran manusia tentang matematika, bersanding dengan Newton, Einstein, Gauss, Goedel, dan Riemann.  

Hipotesis

Sifat-sifat bilangan prima telah dipelajari oleh para begawan matematika. Dari bukti pertama ketidakterbatasan bilangan prima oleh Euclid atau rumus produk Euler yang menghubungkan bilangan prima ke fungsi zeta sampai formulasi Gauss dan Legendre hingga pembuktian Hadamard serta de la Vallée Poussin.

Bernhard Riemann ikut membuat terobosan dalam teori bilangan prima. Hipotesis Riemann terkandung di dalam 8 halaman makalah diterbitkan pada 1859 merupakan pemikiran revolusioner tentang distribusi bilangan prima yang sampai hari ini dianggap sebagai salah satu hipotesis terpenting dalam teori bilangan.

Misteri

Saya gagap matematika maka tidak malu mengakui bahwa sebenarnya saya tidak mengerti makna hipotesis Riemann maka demi tidak membuat kekeliruan lebih aman saya copas sebagai berikut "Dalam matematika, hipotesis Riemann merupakan dugaan tentang lokasi dari angka nol yang menyatakan bahwa semua nol non-trivial memiliki bagian nyata 1/2. Pada tahun 1859, Riemann mengajukan tesis mengenai distribusi bilangan prima. Riemann menemukan permukaan geometris yang konturnya mampu menjelaskan bagaimana bilangan prima berdistribusi. Untuk menyusun permukaan di mana puncak dan lembah (nilai kritis) dalam grafik tiga dimensi berkorespondensi dengan range fungsi Zeta tersebut. "  

Anda mengerti? Hebat! Saya sama sekali tidak mengerti ! Sejak publikasi, hipotesis Riemann menjadi sasaran utama  untuk pembuktian sesuatu yang disebut sebagai teorema bilangan prima.

Memang beberapa bukti baru telah ditemukan misalnya oleh Selberg dan Erdós namun hipotesis Riemann tetap bertahan sebagai misteri tak terpecahkan.

Siapa Tahu
    
Naskah yang dipublikasikan RMOL ini saya tulis karena siapa tahu ada seorang warga Indonesia mampu menghentikan kemelut polemik hipotesis Riemann.

Memang sudah ada beberapa pihak mengaku mampu seperti belum terlalu lama berselang pada bulan September 2018 seorang tokoh cendekiawan bernama Sir Michael Atiyah sesumbar di hadapan para mahailmuwan matematika kaliber dunia yang tergabung di Forum Heidelberg  Lauratee.

Sayang seminggu kemudian Sir Michael Atiyah resmi dinyatakan gagal menyingkirkan kabut misteri yang merundung hipotesis Riemann.

Maka sampai saat naskah ini saya tulis, konon Clay Institute masih belum menyerahkan hadiah US$ 1.000.000 kepada pihak mana pun akibat memang belum ada yang mampu menciptakan suatu rumus yang benar-benar mampu menghentikan ontran-ontran polemik tentang hipotesis Riemann. 

Siapa tahu  Anda mampu? [***]


Penulis adalah Pembelajar Apa Yang Disebut Sebagai Matematika

 
Editor:

Kolom Komentar


Video

Jokowi Jangan Beli Kucing Dalam Karung

Kamis, 11 Juli 2019
Video

Lebih Baik Prabowo Mati Daripada Berkhianat

Jumat, 12 Juli 2019
Video

Kemesraan Jokowi-Prabowo Belum Berlalu

Senin, 15 Juli 2019