Hotel Esek-esek Kemayoran Sudah Kian Meresahkan

Selasa, 03 Agustus 2010, 05:01 WIB
Jakarta, RMOL. Pemerintah Kota Admi­nis­trasi Jakarta Pusat, khususnya Suku Dinas (Sudin) Pariwisata Jakarta Pusat mesti memperketat perijinan serta pengawasan jam operasional hotel  menjelang bu­lan Ramadhan. Ter­utama karena hotel-hotel tersebut keberadaan­nya di kawasan pemu­kiman pen­duduk.

Sejumlah hotel di kawas­an Ke­mayoran kini diduga digunakan sebagai tempat “transakasi” yang kurang berke­nan di masyarakat. Di antaranya Hotel U, Hotel B, Hotel I, Hotel P dan lain-lain.

Di wilayah lain yang berada di Kramat Senen, dan Johar Baru, serupa, sebagai sarana yang di­manfaatkan penyandang masalah sosial terselubung yang berope­rasi di kawasan tersebut. Kerap kali mereka transit di hotel yang dianggap terjangkau oleh para pelaku pelampias syahwat, ka­rena dianggap tidak terlalu mahal, dengan kisaran tarif Rp 80 ribu-Rp 150 ribu semalam.

Kawasan Kemayoran yang du­lunya sebagai kota santri, kini, akibat dampak pembangunan se­ki­tar yang terus berkembang, dengan pemukiman dan lokasi bisnis,  memunculkan berbagai strata sosial masyarakat penda­tang yang terus memenuhi ka­wasan ini sebagai tempat strategis untuk menetap di Jakarta.

Kini, Kemayoran sebagai pintu gerbang  yang membuka akses masuk antara wilayah Jakarta Utara dan wilayah Jakarta Barat, banyak juga tumbuh penyandang masalah sosial yang bebas me­menuhi koridor jalan utama kota Bandar Kemayoran sebagai ku­pu-kupu malam.

Sayang, sela­ma ini Pemerintah Kota Jakarta Pusat  tidak pernah melakukan operasi di wilayah se­kitarnya. Apalagi bicara pe­ne­r­tiban termasuk hotel-hotel  yang nota bene menganggu lingkung­an itu.

Diduga, pengusaha hotel ba­nyak melakukan pendekatan ke­pada tokoh yang dianggap se­bagai panutan dengan sogokan, lalu mengorbankan fasilitas ling­kungan untuk mendorong peng­usaha menjalankan bisnisnya.

Kemunculan hotel di Kema­yoran, kini membuat alim ulama dan ormas Islam geram. Para alim ulama Ke­mayoran sudah beru­paya mela­yangkan surat kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tapi tidak pernah ditanggapi.

Kabarnya lagi, dalam waktu dekat kembali dibangun hotel di Jalan Benyamin Sueb yang ber­dampingan dengan Masjid Al-Huda, Kemayoran. Terhadap kon­disi ini, sepatutnya Pemerin­tah Kota Jakarta Pusat mengkaji  ulang  rencana pengusaha hotel membangun hotel yang terletak di tengah pemukiman. Apalagi yang berdampingan dengan ru­mah ibadah. Dikhawatirkan, ini akan menimbulkan protes warga dan alim ulama.[RM]

Tag:

Kolom Komentar


loading