RUMAH KACA

Uis Gara

Oleh: Hujan Tarigan

Selasa, 03 Agustus 2010, 07:54 WIB

“dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Q.S 16:16”

“SUDAH kau jahitkan kain sigara-gara1 yang kupesan, Da?”

Sabda tersentak di atas kasurnya. Pukul tiga dinihari. Disekanya keringat yang muncul deras dari pori-pori kulit. Sambil tergagap, dia sandarkan tubuhnya ke dinding kamar. “Mimpi itu lagi. Setiap malam orang itu muncul dalam mimpiku. Apa pula maunya?” desis Sabda sambil kembali menjatuhkan tubuh ke kasur dan menenggelamkam wajahnya ke balik bantal.

Hari masih gelap, ketika untuk kedua kali Sabda terbangun gara-gara mimpi bersambung dan tak berpangkal ujung. “Kau jahitkanlah kain sigara-gara yang robek itu. Kasihan mami(2) mu tadi,” kali ini Emak si Sabda yang muncul di dalam mimpi.

“Bagaimana mungkin aku bisa menjahit? Bah,yang macam-macam saja mimpiku,” bisik Sabda sambil bangkit dari kasur dan meninggalkan kamarnya.

Siang hari, di tempatnya bekerja, Sabda terus terngiang dengan perintah mendiang emakknya di dalam mimpi. Baginya permintaan seseorang asing yang belakangan sering muncul di dalam mimpinya pantas untuk dipecahkan.

“Aku bukan ahli menafsir mimpi, Da. Tapi barangkali ada yang sedang terjadi di keluarga mamimu itu. Kau temui sajalah anak-anak mami kau itu,” saran seorang temannya di tempat kerja.

Maka sore harinya, selepas Sabda bekerja, dia sempatkan diri untuk silaturrahmi ke kerabat yang sudah lama tidak dikunjunginya.

Agaknya, dari hati paling dalam, Sabda berat untuk menginjakkan kaki ke rumah salah seorang anak dari maminya. Pasalnya ada sebuah perkara yang pernah terjadi di antara keluarga tersebut. Untuk masalah ini, Sabda memang pernah mengeluarkan sesumbar bahwa dia takkan lagi mau menginjakkan kaki di rumah anak maminya. Tapi untuk si Ruman, bungsu di keluarga maminya, Sabda memberikan pengecualian. Banyak hal yang memungkinkan untuk Sabda menginjakkan kaki di rumah sepupunya itu. Selain untuk membicarakan isi mimpi Sabda, Ruman adalah satu-satunya anak si mami yang tak begitu angkuh. Dan dengan alasan itu, akhirnya Sabda mendatangi juga rumah Ruman, dan menginjakkan kakinya.

Bel ditekan beberapa kali. Seorang perempuan muda muncul dari balik pintu. Sempat hening sejenak tatkala keduanya bertatap muka. “Bang Sabda?” tanya Siska. Sabda mengangguk sambil menggaruk-garuk kepala. “ Ada apa Bang? Tidak biasanya datang. Ada berita apa?”

“Ehm, begini Sis, si Ruman ada?” sambut Sabda sambil terus berdiri mematung di depan pintu. “Bang Ruman belum pulang, sebentar lagi agaknya,” jawab Siska sambil memersilakan Sabda masuk.

Untuk sesaat Sabda sempat berpikir untuk pergi saja dari rumah sepupunya itu. Berat sekali kakinya melangkah masuk. “Aku di sini saja lah,” ujar Sabda sambil mengambil duduk di kursi rotan di teras rumah Ruman.

Hari beranjak senja, lembayung sudah menggantung jingga di langit barat. Burung-burung terbang rendah di atas atap rumah Ruman yang dikelilingi gedung tinggi.

“Jadi begitulah Sis, aku juga bingung dengan arti mimpiku itu. Habisnya hampir tiap malam mamiku tadi muncul dalam tidurku,” kata Sabda menutup ceritanya. Sementara itu iparnya masih terus mendengarkan dengan raut yang serius pula.

“Aku tak tahu lah Bang, baiknya Abang sampaikan juga ke Bang Ruman. Sebentar lagi dia pulang,” ujar Siska.

Hari semakin gelap. Sabda menyeruput kopi yang dihidangkan hingga nyaris kandas. “Bang Sabda?” ujar Ruman dari halaman. Sabda bangkit dari duduknya. disongsongnya Ruman yang kian mendekat menghampirinya.

“Apa kabar Bang? Ada apa gerangan, hingga akhirnya muncul di sini?” tanya Ruman dingin sambil menyodorkan tangannya.

“Duduklah dulu, ada berita yang mau kusampaikan,” jawab Sabda sambil menerima uluran tangan Ruman.

“Soal tanah yang di Namo Gajah itu, kami sudah putuskan, tak akan menjualnya. Jadi jangan berprasangka buruk lagi ya,” ujar Ruman sinis. Sabda miris. Kekuatirannya terbukti juga. Inilah yang menjadi alasan dia untuk menjauhi anak-anak maminya. Dongkol di hati Sabda kembali bangkit jika urusan tanah warisan dari bolang mereka diungkit-ungkit. Ingin sekali saat itu juga dia pergi meninggalkan Ruman yang sudah ditunggunya sejak siang.

“Bukan soal itu, tenanglah dulu,” ujar Sabda.

“Jadi soal apa?” tanya Ruman lagi. Siska datang membawakan segelas kopi untuk suaminya.

“Ini soal mimpi,”

“Ah, apapula soal mimpi? Yang kutahu, setiap keluarga bibiku datang kemari selalu yang dibicarakan soal tanah,” sambung Ruman ketus.

“Kau mau aku teruskan maksudku atau kau mau mengusirku?” tanya Sabda marah.

“Eh, sabar Bang, janganlah marah. Itu ‘kan fakta. Hampir semua suadara ini selalu datang dengan membicarakan warisan. Sudah capek kami sekeluarga,” kata Ruman.

Sabda terdiam, dan tak jadi beranjak dari duduknya. Dia mengamini apa yang dikatakan Ruman. Selama ini hal itu memang terjadi di dalam keluarga besar mereka. Sengketa dan selisih paham soal warisan yang dibagikan tidak merata oleh Bolang mereka adalah penyebab utama keluarga mereka jadi tak mau bersatu.

“Ceritakan Bang. Mimpi apa pula itu?”

Maka Sabda pun memulai ceritanya. Dikisahkannya semua isi mimpinya kepada sepupunya itu, tanpa ada yang dilebih-lebihkan dan dikurangi.

“Kalau bukan karena emakku yang mengingatkan bahwa orang yang selalu datang ke dalam mimpiku itu adalah emakmu, mungkin aku tak akan datang ke rumah ini.” sambung Sabda di ujung cerita. Dengan seksama Ruman masih duduk tepekur mamandangi ubin lantainya.

“Jadi begitulah. Aku sudah menceritakan isi mimpiku. Meski tak tahu artinya, tapi paling tidak aku sedikit lega.”

Sabda menutup ceritanya sambil meneguk sisa kopi dari gelas yang telah dua kali diisi ulang oleh Siska.

Ruman dan istrinya hening sejenak. Berdua mereka saling melempar pandang. Entah mereka harus percaya atau tidak pada mimpi Sabda, tapi yang jelas Ruman berucap, “Bang, aku tak mengerti isi mimpi Abang. Tapi menurutku, mimpi itu Abang ceritakan saja pada Bang Meuhuli. Mungkin dia bisa mengerti Bang.”

“Si Meuhuli?” ulang Sabda. Ruman dan Siska serempak mengangguk.

“Iya, aku tahulah, sikap dia memang tak ramah pada anakberu kami. Khusunya anak-anak bibiku ini. Tapi, di antara saudaraku, cuma Bang Meuhuli yang dekat denganku,” ujar Ruman sambil membujuk.

Sabda menarik nafas. Kepalanya pusing. Penat seharian bekerja semakin terasa berat. Beban yang tadi dikiranya sudah hilang, sekarang malah bertambah.

“Tak mungkin aku ke sana, Ruman,” balas Sabda mengiba.

“Tolong lah Bang,” pinta Ruman.

Sabda bergeming.

“Iya Bang Sabda. Kalau hanya menjahitkan kain sigara-gara tadi, aku bisa. Tapi ini sebuah mimpi. Aku tak mengerti artinya,” sambung Siska. Kepala Sabda semakin berat. Dunia berputar kencang. Sakit hatinya atas penghinaan yang dilakukan Meuhuli kembali teringat.

***

Duabelas tahun lalu, Mama Beringin Tiga meninggal. Sebelum meningal dia berpesan kepada anak-anaknya bahwa tanah yang dimilikinya di Namo Gajah itu harus dibagikan kepada keluarga si Sabda dan sepupu mereka yang lain.

“Bolang kalian dulu membagikan tanahnya dengan rata, tanpa membedakan kalimbubu(3) atau anak beru(4). Nanti kalian bagikan untuk bibi-bibi kalian tanah itu. Tugasku menjaga hak mereka sudah selesai.” demikian wasiat Mama Beringin Tiga kepada tiga anaknya.

Tiga tahun sepeninggal Mama Beringin Tiga, dari pihak anak beru datang dan menagih haknya. Sayang, Si Meuhuli, anak tertua Mama Beringin Tiga menolak menyerahkan. Perang mulut terjadi. Termasuk kepada Sabda dan saudara-saudaranya.

Sejak itu seteru kalimbumu dan anakberu bermula. Dan sekarang, mau tak mau Sabda harus mengisahkan isi mimpinya kepada anak-anak Mama Beringin Tiga.

***

“Ruman, sebenarnya pantang bagiku untuk menginjakkan kaki ke rumah kalian ini. Tapi karena mami setiap malam datang dalam mimpiku, aku terpaksa.” ujar Sabda. Ruman terdiam.

“Sekarang tugasku sudah selesai. Aku sudah menceritakan semua isi mimpiku. Sekarang aku mau pamit pulang,” ujar Sabda beranjak.

“Bang, aku minta maaf, kalau dulu memang aku pernah salah sama Abang semua. Tapi tolong aku Bang, kalau memang abang tak mau ke rumah bang Meuhuli, datangilah rumah si Tongat. Biar dia juga mendengar mimpi Abang ini.” ujar Ruman memelas.

“Kupikirkan itu nanti.” sambung Sabda sembari pamit pergi.

Di teras rumahnya, Ruman dan Siska hanya berdiri memandangi kepergian Sabda yang menghilang di ujung jalan. Perlahan bulir air mata mengalir dari sepasang mata Ruman. Dengan lunglai dia membalik badan dan masuk ke dalam rumah. Siska hanya membututi langkah Ruman dengan kuyu.

***

“Mami, aku tak bisa menjahit. Mami minta tolong saja pada adik-adikku yang perempuan ya.” ujar Sabda.

“Jangan begitulah Sabda. Hanya kau yang bisa menjahitnya.”

“Aku betul-betul tak bisa menjahit Mi,” jawab Sabda.

Tiba-tiba Emaknya yang sudah mati muncul, “Kau tolong Mami mu ini. Dia mau ikut merdang mardem(5). Tak ada tudungnya. Kau jahitkan itu sigara-gara miliknya ya,” ujar Emaknya.

“Mak…” ujar Sabda sembari bangkit dari tidurnya. Pukul enam pagi. Sabda sudah berada di hari yang lain lagi.

***

Di kantornya Sabda terus memikirkan mimpi malamnya.

“Aku sih tak tahu menahu soal hubunganmu dengan keluarga besar mamamu itu. Tapi menurutku, tidak ada salahnya kalau kau mengunjungi saudaramu yang lain. Kau tinggal bilang, kalau itu mimpi. Itu saja. Daripada kau harus didatangi mimpi yang sama setiap malam?” saran seorang teman Sabda.

Untuk kedua kalinya Sabda mengumpulkan segenap kekuatannya untuk membulatkan tekad, dia harus ke rumah si Tongat.

Namun begitu jam pulang kerja tiba, pikiran Sabda kembali berubah. Teringat dia kepada sepupunya yang sekarang telah menjadi mayor tentara itu. “Ah, sedang masih letnan saja dia sudah sombong, apa lagi sudah mayor?” batin Sabda. Namun begitu dia mengingat kesombongan Tongat, di saat bersamaan dia teringat dengan pesan Emaknya di dalam mimpi.

Matahari nyaris tenggelam, ketika akhirnya Sabda memutuskan juga untuk menginjakkan kakinya di halaman rumah Tongat.

Dari jauh dia melihat Tongat tengah berdiri di halaman. Dengan kaos oblong hijau dan celana pendek, kakak si Ruman itu tengah asik menyiram tanaman hias di halaman.

Mejuah-juah(6) Tongat,” sapa Sabda sambil mendekat. Tongat yang tengah asik dengan tanaman hiasnya berhenti dan memperhatikan tamunya yang masih berdiri di seberang pagar.

“Kam Sabda?” balas Tongat sambil terus memastikan tamunya.

“Uei,” jawab orang di seberang.

“Masuklah,” ajak Tongat ramah. Sabda masih terus berdiri kaku.

“ Lima hari raya kita tak bertemu, kai beritandu?” ucap Tongat sambil membuka pintu.

***

Hari semakin malam, ketika Sabda akhirnya menyelesaikan isi dan maksud kedatangannya...

Bageinda(7) Tongat, aku pun tak tahu apa arti mimpi itu,” tutup Sabda sambil menyambar segelas kopi.

Tak terasa air mata Tongat menetes ketika Sabda selesai menceritakan isi mimpinya. “Entahlah Da, entah kenapa nande(8) mendatangimu. Bukan kami, anak-anaknya,” ujar Tongat sambil berusaha menutupi kesedihannya.

“Aku juga tak tahu Tongat, yang aku pikirkan sekarang, aku harus memberitahukan pada kalian tentang isi mimpiku itu. Mungkin hanya kalian yang tahu artinya.” balas Sabda.

Tongat mengangguk. Di sampingnya duduk istrinya dan anak kedua Tongat.

“Aku senang, anak bibiku mau datang ke rumahku. Sudah lama kita tak berbincang ramah seperti ini ya Sabda?”

Sabda mengangguk. Senyum simpul mengembang dari bibirnya.

“Itulah, meski aku senang, kau sudah datang, tapi aku sedih sekarang Sabda,” ujar Tongat.

“Semakin tinggi pangkatku, semakin enggan saudara-saudaraku datang berkunjung. Aku pun sudah lama tak bersua dengan si Ruman dan abangku si Meuhuli.”

“Waktu kita masih kecil-kecil, kau ingat?” kata Tongat meneruskan ceritanya. “Aku pun harus minta maaf pada anka-anak bibikku.”

“Sudahlah Tongat, yang sudah biarlah berlalu. Kami pun sudah tidak lagi meributkan wasiat itu. Kami sudah lama mengiklaskannya. Sungguh,” ujar Sabda.

“Jangan begitu Sabda, itu hak kalian. Bagaimanapun kami harus menyerahkan tanah yang diwakilkan kepada bapak kami kepada kalian,” sambung Tongat.

“Kau sudah menerimaku dan mendengarkan isi mimpiku, aku sudah senang Tongat. Kita sudah sama-sama tua, sebentar lagi juga masuk kubur. Aku hanya tak mau kehilangan saudara. Aku sudah lupakan soal itu. Betul kok. Aku datang hanya untuk mimpi itu. Aku tak minta tanahku.”

Tongat menangis mendengar kata-kata Sabda. Diingatnya kesombongan dirinya ketika mengklaim tanah warisan emak si Sabda sebagai tanah mendiang bapaknya.

“Tanah bisa kubeli, tapi saudara, bila hilang, kemana kucari?” sambung Sabda akhirnya dengan lega.

“Mungkin itulah sebab kenapa emakku lebih mau datang dalam mimpimu daripada ke mimpiku,” ujar Tongat.

“Aku tak tahu Tongat. Yang pasti sekarang aku sudah lega. Tak lagi terbebani mimpi itu,” ujar Sabda bangkit dari duduknya. “Sudah malam, aku pamit ya.”

“Tunggu dulu,” ujar Tongat menahan. Sabda kembali duduk. “Aku tak tahu mesti bilang apa, tapi bisa tidak kau menolongku?”

“Darah lebih kental dari air, Tongat, kalau aku bisa bantu kau, tentulah aku bantu,” ujar Sabda sambil tersenyum. Tongat balas tersenyum.

“Maukah kau menceritakan cerita ini kepada Meuhuli?” tanya Tongat.

Sabda hening. Kepalanya berputar, berat seakan ditimpa sebilah balok.

“Aku tahu, kau dendam sekali dengan si Meuhuli. Tapi dia harus tahu kisah ini.”

“Baiknya kau saja Tongat. Kau kan adiknya.”

“Iya, aku adiknya. Tapi yang bermimpi itu kau,” kata Tongat. Darah Sabda seakan berhenti mengalir. Apalagi begitu dia mengingat kelakuan kasar Meuhuli.

“Katanya sudah tiga bulan ini dia sakit-sakitan. Mungkin mimpimu itu bisa menenangkan hatinya.

“Baiknya kau sajalah Tongat, aku tak bisa bertemu dia,” tolak Sabda dengan halus.

“Kau bilang darah lebih kental dari air. Kau sajalah yang ceritakan, ya?” bujuk Tongat. Sabda menarik nafas dalam-dalam.

“Kita tengoklah nanti.”

Ula kam bagei,(9) tolong aku pal(10),” mohon Tongat sambil menjabat tangan Sabda. Mata mayor yang berkaca-kaca itu menusuk langsung mata Sabda.

Uwei(11) lah,” kata Sabda tak mau berlama-lama, dengan segera dia pamit dan meninggalkan rumah Tongat.

Dari dalam rumahnya, Tongat yang dibantu anaknya bangun dari kursi memperhatikan Sabda.

***

“Sabda, uga beritandu(12)?” sapa Meuhuli sambil mendekati Sabda.

“Mejuah-juah Bang,” ujar Sabda. dengan wajah bersinar Meuhuli menjabat tangan Sabda.

“Senang aku bisa bertemu dengan kau.”

“Iya bang, aku juga.”

“Begini Sabda, aku mau minta tolong sama kam.”

“Tolong apa itu Bang?”

“Tadi emakku menitipkan kain sigara-gara ini, katanya dia mau ke pesta.”

“Eh, sigara-gara?”

“Iya Sabda, tapi coba kau tengok, kainnya robek, dia minta kau jahitkan kain ini.”

“Tapi aku tak bisa menjahit Bang.”

“Sudah bilang emakku tadi, katanya kau mau menjahitnya.”

“Ah, masak, mana bisa aku menjahitnya.”

“Bah, tak tahulah aku, dia titip pesan, katanya kau harus jahit kain ini segera, dia mau pergi ke pesta.” ujar Meuhuli.

“Ah, kenapa bukan Bang Meuhuli saja?”

***

Pukul lima subuh. Sabda tersentak dari tidurnya. Di samping, Salbiah istrinya sudah tak ada.

“Mimpi itu lagi Biah,” ujar Sabda mendekati meja makan. Salbiah yang tengah menyiapkan sarapan hanya mengedarkan pandang saja ke arah Sabda. Sambil membetulkan letak kain penutup kepala, dengan cekatan dia menghidanhgkan makanan untuk Sabda.

“Tapi kali ini yang datang Bang Meuhuli.”

Salbiah, senyap sejenak. “Kemana mami itu bang?”

“Itulah, kata Bang Meuhuli, mami itu mau pergi ke pesta. Jadi dia menitipkannya.”

“Aneh kali mimpi Abang itu.”

“Aku punya firasat tak enak Biah.”

“Makan lah dulu, nanti sepulang kerja, Abang kunjungilah Bang Meuhuli.”

“Aku sedang pikirkan itu Biah. Rasanya, aku tak akan ke kantor pagi ini.”

“Hm.”

“Kita ke rumah Bang Meuhuli ya?”

“Terserah Abang saja.”

***

Siang itu, Sabda dan Salbiah bertandang ke rumah Meuhuli. Dengan membawakan sedikit buah tangan, Sabda berniat menceritakan seluruh isi mimpinya. Penuh keyakinan, dia tepis sakit hati dan dendamnya kepada Meuhuli. Dua belas tahun, sejak peristiwa pembagian tanah itu, Sabda tak bertemu Meuhuli. Dia hanya mendengar cerita tentang Meuhuli dari kerabatnya yang lain. Termasuk kabar terkini tentang Meuhuli dari si Tongat.

Satu jam di perjalanan, angkot yang membawa sepasang suami istri itu akhirnya berhenti di depan sebuah gang. Agak sungkan, namun Sabda tetap melanjutkan langkahnya menuju kediaman Meuhuli.

“Sabda!” panggil Ruman yang tiba-tiba muncul entah darimana.

“Man, kau di sini juga?” tanya Sabda pada Ruman.

Sambil menangis dan mendekap Sabda, “Kau datang juga, Da,” isak Ruman.

“Iya, aku datang, mau bertemu Bang Meuhuli. Soal mimpi itu,” jawab Sabda sambil mengatur nafasnya.

“Bang Meuhuli, Da. Meninggal malam tadi.”

“Apa?” balas Sabda. “Innalillahi wainnailaihi rojiun.”

Sambil menahan tangisnya, Ruman mengajak Sabda dan Salbiah ke rumah Meuhuli.

“Dia baru saja dikubur.”

“Si Tongat?” tanya Sabda.

Ruman diam, sambil terus menyeka air matanya, diantarkan suami-istri itu ke rumah Meuhuli.

***

Di rumahnya, Tongat masih duduk. Lengkap dengan pakaian dinasnya. Dia tak pergi ke markas pagi ini. Setengah harian dia terus duduk sendiri di rumahnya sambil mengingat kata-kata Sabda, “Darah lebih kental dari air.”

Dengan wajah muram, Tongat terus memandangi kembang-kembang hias di tamannya. Dia tahu, bahwa Abang tertuanya sudah meninggal dunia.

Medan, 26 Oktober-Palmerah 3 Desember 2007

Catatan:
1 Uis Gara: Kain si gara-gara (penutup kepala uang biasa dipakai perempuan Karo)
2 Mami: Istri paman dari pihak ibu

3 Kalimbubu: hubungan kekerabatan pihak lelaki
4 Anak beru: hubungan kekerabatan pihak perempuan
5 Merdang merdem: pesta adat Tanah Karo
6 Mejuah-juah: salam
7 Bageinda: begitulah
8 Nande: Emak
9 Ula kam bagei: jangan kau begitu
10 Pal atau impal: panggilan sepupu dari pihak ayah ke pihak perempuan ayah
11 Uwei: baiklah
12 Uga beritandu: bagaimana kabarmu

Tag:

Kolom Komentar